Caps Dan Perk Masih Tetap Menjadi Duo Terbaik

Caps Dan Perk Masih Tetap Menjadi Duo Terbaik

E-Sports / 12 November, 2019

Caps Dan Perk Masih Tetap Menjadi Duo Terbaik

Caps Dan Perk Masih Tetap Menjadi Duo Terbaik – Kekalahan yang dialami G2 dalam pertandingan pertama membuat mereka tak pernah pulih dari hal tersebut , disapu bersih didepan para fans dan di kota asalnya sendiri di Prancis dan melihat lawan mereka merayakan kemenangan dengan kepala menunduk sembari turun dan keluar dari arena.Itu adalah pukulan terberat bagi mereka.

Park tidak bisa hadir disaaat konfrensi Post Game , ia merasa bahwa dirinya sedang tidak enak badan dan pihak G2 tidak ingin memaksanya untuk berpartisipasi.Caps , pria yang biasanya memperlihatkan senyumnya tersebut tak lagi terlihat , ia tampak murung , sedih seakan ingin mengatakan bahwa dirinya saat itu hanya ingin kembali ke hotel dengan keluarganya dan mempersiapkan diri untuk masa yang akan datang.

Ini adalah pertama kalinya pada tahun ini , ia terlihat seperti siapa dia sebenarnya : hanya seorang pemain Mid Laner dengan pengalaman professional AD Carry selama setahun.

Kekalahan tersebut , tidak merebut tahun yang telah dilalui Caps dan Perk ,bersama dengan anggota G2 Esport miliki.Sebuah malam yang suram di Paris tak senilai dengan kenangan yang telah mereka lalui.Saat kedua pemain tersebut turun dari bus menuju ke AccorHotels Arena pada hari minggu,mereka adalah pemain Barat yang terhebat sepanjang masa.

Caps hampir keluar dari kejuaraan League of Legend sebelum pada akhirnya ia bisa kembali masuk.Ia mulai bermain untuk Fnatic pada bulan Desember 2016 silam dan langsung menjadi sorotan kebencian di media sosial dan permainan League of Legends , sikapnya yang sombong dalam permainan solonya terpampang jelas di internet.

Pemain muda yang berumur 16 tahun tersebut meminta maaf , menundukkan kepalanya dan melangkah maju.Disaat kekalahannya pada playoff Wordl Championship tahun 2017 yang diadakan di Guangzhou,China silam , mendapat banyak kritikan bahwa dirinya telah menjadi titik kelemahan teamnya ,ia percaya terhadap gaya bermainnya yang serba bisa dan terus berjalan maju.

Menjadi pemain veteran disaat memasuki umur 19 tahun , dan telah bermain dua kali dalam final kejuaraan dunia dan memenangkan International Trophy di MSI.Setiap kekalahan yang ia alami dengan skor 3 – 0 dalam final kejuaraan dunia , ia tak merasa malu melainkan merasa bangga.Empat tahun silam jika ada pemain barat yang bisa mencapai tiga final internasional ia akan mendapat hinaan .Itu dikarenakan mindset dimana hanya player dari Korea Selatan atau pemain berdarah Tiongkok yang dapat melakukannya.Mustahil jika player asal Amerika atau Eropa dapat melakukannya.

Akan tetapi Caps menghancurkan mindset tersebut, iya menjadi orang pertama yang melakukkannya dan menjadi pemain profesional.

Berbeda dengan Caps , Perkz memiliki cerita yang berbeda .Kesombongan dan keangkuhannya semakin menjadi seringan dengan kejayaan yang ia dapatkan.Akan tetapi saat kekalahan internasional yang ia alami menjadi sebuah noda yang tak bisa dihilangkan.Sebagai pemain G2 ia telah membuat banyak kesalahan yang meyebabkan mundurnya timnya di panggung dunia.

Akan tetapi hal itu tidak membuatnya menyerah dan tetap melanjutkan mengembangkan skillnya sebagai pemain Mid Laner dan momen pelariannya pada kejuaraan internasional pada tahun 2018 dimana G2 membuat kekecewaan terbesar dalam sejarah permainan dunia waktu itu dengan mengeliminasi tunarmen favorit team RNG dalam lima pertandingan.Dengan semua hal yang terjadi tersebut ia masih tetap seorang kapten dan bagian dari team G2.